Beginilah Sultan Agung Dalam Menyatukan Jawa Lewat Kalender

Rutinitas kala rayakan 1 Suro senantiasa berulang di beberapa kraton di Tanah Air. Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, sampai Kasepuhan Cirebon merayakannya.

Kraton Surakarta umpamanya, menyelenggarakan agenda jamas (memandikan) pusaka-pusaka kraton waktu malam 1 Suro. Kirab kerbau bule, Kiai Slamet ikut dilakukan dalam hari yg sama.

Ritual itu hanya beberapa dari penggunaan kalender Jawa yg direncanakan oleh Sri Sultan Muhammad Sultan Agung Prabu Anjokrokusumo atau diketahui dengan Sultan Agung ; Raja Mataram Islam ke-tiga serta menyuruh periode 1633-1645. Kalender yg ia jadikan itu mengkombinasikan kalender Hijriah dengan kalender Saka, penggabungan pada animisme, dinamisme serta Hindu.

Artikel Terkait : angka romawi

Kalender punyai arti pemberi tanda waktu aktivitas atau ritual-ritual keagamaan. Dalam rutinitas agama-agama pada dunia kalender punyai urutan utama dalam pemilihan hari-hari besar atau masa-masa yg disakralkan.

Menurut Islam, metode kalender berkenaan dengan waktu puasa, hari raya, serta beribadah haji. Sehabis berlangsung gabungan pada budaya Jawa serta Islam dalam kalender Sultan Agung, kegunaan kalender, bertambah utama serta krusial untuk kehidupan warga.

Suku Jawa yg kuat dengan kepercayaan bakal animisme serta dinamisme, membuat kalender Sultan Agung jadi rujukan dalam mengontrol kehidupan sesehari. Tidak sama dengan kalender Hijriyah, peraturan perihal berkenaan beribadah serta sedikit jumlah, berubah menjadi khusus.

Menurut Politik Hukum Dalam Perumusan Kalender Islam (Studi Terkait Peraturan Kalender Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab serta Kalender Sultan Agung di Tanah Jawa) , budaya Jawa udah terbuat serta berkembang sejak mulai era prasejarah. Budaya Jawa era prasejarah berdasar pada keyakinan animisme serta dinamisme. Ialah, menurut pemikiran, alam semesta ditinggali oleh arwah-arwah yg salah satunya merupakan arwah leluhur.

Tidak hanya itu pada ciri-ciri budaya warga Jawa merupakan keyakinan kalau semua yg berada pada alam semesta adalah simbol-simbol punyai arti. Baik itu benda konkrit atau abstrak, semua punyai arti serta cuma dimengerti oleh beberapa orang khusus.

Saat Islam ada ke Jawa, skema fikir keyakinan lama warga tetap menempel. Situasi ini dipakai oleh banyak penyeru agama Islam, menyiarkan dakwah bercorak toleransi. Ialah, mengambil budaya lama namun dengan di isi dengan nilai-nilai agama Islam.

Simak Juga : kalender jawa

Situasi umat Islam yg begini senantiasa berbuntut. Bahkan juga sampai kerajaan Mataram Islam berdiri.

Bukan tiada dikarenakan kalender itu dibikin oleh Sultan Agung. Ia memakai kalender yg dia bikin buat memfasilitasi serta mengarahkan orang Islam Jawa mengerjakan kepercayaannya. Kalender itu mempunyai nuansa Jawa-Islam. Awal kalinya orang Jawa pemeluk Islam tetap memanfaatkan kalender saka sebagai gabungan Jawa asli serta Hindu.

Kiat Kreatif
Saat Sultan Agung berkuasa, jadi muslim, dia punyai motivasi buat berdakwah serta memberikan agama Islam. Sistem yg dimanfaatkan yakni dengan sinkretisasi budaya Jawa serta Islam sama seperti yg dilaksanakan oleh penyebar agama Islam awal kalinya, Sunan Kalijaga. Satu diantaranya anggota wali sanga ini merupakan asli orang Jawa.

Jadi orang Jawa, Sultan Agung mendalami sifat orang Jawa serta berdakwah seperti dilaksanakan pendahulunya itu.

Namun, ada maksud beda yg melatarbelakangi peraturan kalender oleh Sultan Agung. Ia punya tujuan menggenggam otoritas keagamaan, dimana awal kalinya otoritas keagamaan ada di tangan Sunan Giri yg berkedudukan di Giri Kedaton.

Sehabis Kerajaan Majapahit rubuh, serta Kerajaan Demak berdiri. Raden Patah berubah menjadi raja dengan titel Sultan Syah Alam Besar. Raden Patah jadi raja Demak dinobatkan Sunan Giri jadi pemegang otoritas keagamaan.

Pada waktu seterusnya penobatan raja-raja Jawa oleh Sunan Giri berubah menjadi suatu rutinitas. Kesunanan Giri adalah titel turun temurun. Raden Patah berubah menjadi Raja Demak dinobatkan oleh Sunan Giri pertama. Sesudah itu penobatan raja-raja Jawa dilaksanakan oleh keturunan Sunan Giri pertama yang bergelar Sunan Giri.

Ketika Sultan Agung menyuruh Mataram Islam, otoritas Giri dipegang oleh Sunan Giri ke-4. Sunan Giri jadi pemegang otoritas keagamaan paling tinggi di Jawa disadari semuanya di tanah Jawa, serta bahkan juga hingga di luar pulau Jawa. Efek Sunan Giri itu sangatlah dimengerti oleh Sultan Agung. Meski begitu, ketika naik tahta Sultan Agung tak memohon restu terhadap Sunan Giri sama seperti banyak sultan terdahulu.

Oleh karena itu, sejak mulai berkuasa, silih berpindah serangan ada pada Sultan Agung dilancarkan banyak adipati serta bupati di Jawa Timur hingga Blambangan. Lokasi itu tetap tunduk terhadap Sunan Giri serta tak ingin mengaku Sultan Agung jadi raja resmi. Tidak cuman dapatkan serangan dari bangsa sendiri Sultan Agung mesti siap-siap buat berperang menantang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Batavia.

Hadapi kondisi itu, Sultan Agung butuh support rakyat dari semua golongan. Baik dari golongan abangan atau golongan putihan (santri) . Karenanya Sultan Agung mesti menjatuhkan otoritas Sunan Giri serta memposisikan otoritas keagamaan pada dirinya sendiri.

Dengan pemberian Pangeran Pekik, adik ipar Sultan Agung dari Surabaya, pasukan Giri Kedaton bisa ditundukkan. Jadi upaya konkret memegang keyakinan rakyat jadi pemegang otoritas keagamaan, Sultan Agung keluarkan dekrit mengedit kalender Saka berubah menjadi kalender Jawa-Islam.

Jadi orang Jawa asli, Sultan Agung walaupun udah memeluk Islam, pastinya tetap punyai sifat sinkretisme dalam dirinya sendiri. Jadi orang Jawa, ia tak nyaman dengan kehadiran Sunan Giri yg beraliran puritan serta tak toleransi pada saluran sinkretis yg diikuti Sultan Agung. Di luar motif penggabungan rakyat buat menantang VOC di Batavia serta penyebaran agama Islam, aplikasi kalender Jawa-Islam merupakan upaya Sultan Agung buat mengukuhkan Islam ala Jawa yg dianutnya.

Menurut buku Memayu Hayuning Bawono, penggabungan ke dua kalender, bikin kestabilan politik Sultan Agung tambah tangguh. Ia mau mendapat legitimasi lebih kuat kembali dari rakyatnya. Ia lantas mendapuk dirinya jadi, Senapati Ing Alaga Sayiddin Panatagama Kalifatullah. Arti titel itu merupakan ia merupakan panglima perang, pemimpin agama, serta wakil Tuhan.

Penggabungan kalender serta beragam rutinitas yang lain, memiliki tujuan buat merangkul semuanya rakyat Jawa biar menyatu dibawah kekuasaan Mataram. Serta pada gilirannya lantas jadikan suatu kesempatan baik politik menggalang kapabilitas buat menyerang Belanda dengan VOC-nya di Batavia pada 1628 serta 1629.

Kiat kreatif Sultan Agung yg beda merupakan lewat sastra. Pada waktu itu, sastra keraton adalah kiblat dunia sastra warga. Sastra keraton berubah menjadi wadah juga sekaligus corong pemerintah pada rakyatnya. Atas titah Sultan Agung, dibuatlah karya sastra monumental Serat Centhini. Walaupun berisi beragam tuntunan keutamaan, Serat Centhini tambah banyak berisi mitos yg mengukuhkan legitimasi Sultan Agung. Umpamanya, kejadian “Syaikh Amongraga” yg berubah jadi ulat serta ditelan oleh Sultan Agung (Mark Woodward, 2004 : 52) .

Tidak hanya itu, legitimasi budaya pendirian Kerajaan Mataram bertambah tangguh dengan dibuatnya Babad Tanah Jawa. Karya sastra ini adalah satu diantaranya sistem pembenaran kalau dinasti Mataram adalah pemilik resmi tanah Jawa. Lewat beragam harmonisasi ramalan serta mitos, karya sastra ini berikan keabsahan mutlak Sultan Agung atas Mataram serta semuanya tanah Jawa.

Sejumlah penulis histori berasumsi Sultan Agung meningkatkan budaya pedalaman Jawa yg berciri kejawen, feodal serta memiliki bau mistik. Hal semacam itu tidak sama dengan banyak raja awal kalinya yg berciri perniagaan hingga banyak pelabuhan tumbuh subur di pesisir utara Jawa.

Ketika Sultan Agung, Mataram dapat tumbuh berubah menjadi kerajaan yg disegani. Berkat, manunggaling kawula lan gusti, atau sama sama asah, asih asuh serta bersatu-padunya pemimpin dengan rakyatnya.

Dikuatirkan
Kehidupan Sultan Agung sempat diunjukkan dalam layar-lebar hasil garapan sineas Hanung Brahmantyo. Film bertema “Sultan Agung : Tahta, Perjuangan, Cinta” ini muncul di penghujung Agustus 2018. Pendiri PT Mustika Ratu Tbk, Mooryati Soedibyo berubah menjadi produser film berlatar histori ini kala ia berumur 90 tahun.

Narasi dalam film yg di kerjakan dalam sesuatu desa di Sleman, Yogyakarta ini di mulai dengan kejadian Raden Mas Rangsang remaja. Ya, itu istilah Sultan Agung kala remaja yg terlahir dengan naa Raden Mas Jatmika. Ayahnya, Panembahan Hanyokrowati memberika nama itu kepadanya kala lahir pada 1584 di Kotagede, Yogyakarta.

Ayahnya merupakan raja ke dua Mataram, dan ibunya, Ratu Mas Adi Dyah Banawati merupakan putri Pangeran Benawa raja Pajang. Kerajaan Pajang merupakan kerajaan baru sehabis kerajaan Demak rubuh.

Masa menjejak umur remaja, Mas Rangsang belajar di Padepokan Deretan, yg di pimpin Kiai Jejer. Sepanjang belajar di padepakan Ki Jejer, teman-temannya serta pengurusnya tak ada yg paham bila sebearnya Raden Mas Rangsang adalah anak kandung dari Raja Mataram.

Kala di padepokan itu, ia bersua dengan cinta saat remajanya ialah Lembayung. Tuhan berkehendak beda. Cinta pertama terpaksa sekali ia tinggalkan. Lantaran bapak Mas Rangsang, Panembahan Hanyokrowati, meninggal dunia.

Ia diposisikan pada kondisi yg tak dapat tidak diterima. Patih khusus kerajaan Mataram, atau panglima kala itu, Ki Juru Mertani memberikan fakta pahit yg dijumpai Mataram seandainya kekuasaan kerajaan Islam dilanjut ke tangan Pangeran Martopuro. Nama paling akhir merupakan adik seayah dengan Mas Rangsang yg udah diangkat jadi raja Mataram.

Pangeran Martopuro punyai minimnya mental, serta tetap berumur delapan tahun, hingga hari depan Mataram jelas bakal mengkuatirkan apabila takhta diduduki oleh figure yg sangat legal, bukan yg terbaik. Selanjutnya Mas Rangsang naik takhta, dengan titel Panembahan Hanyokrokusumo.

Pada awal pemerintahannya, Raden Mas Rangsang punyai titel Panembahan Agung. Tetapi, ia banyak ditentang oleh pemimpin lokasi yg masuk kerajaan Mataram Islam. Sekian kali ia mesti hadapi pemberontakan adipati.

Pada 1624 sehabis menundukkan Madura, ia merubah gelarnya berubah menjadi Susuhunan Agung atau berubah menjadi Sunan Agung. Pada 1641, Sunan Agung memperoleh titel Sultan yg didapatnya sehabis mengutus salah seseorang bawahannya ketujuan Arab serta bersua dengan pemimpin Kakbah dan memohon titel sultan padanya buat diserahkan ke Sunan Agung.

Sastrawan Penakluk
Kerajaan Islam Mataram capai puncak kejayaannya serta berubah menjadi kerajaan paling besar di pulau Jawa ketika itu. Mataram berkembang sangat cepat dalam beragam sektor, dimulai dari pelebaran lokasi, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya.

Berdasar sebagian kesaksian salah seseorang saudagar dari Eropa, ialah Balthasar van Eyndhoven, Sultan Agung merupakan seseorang sultan yg tak dapat dikira sepele. Parasnya kejam, seperti kaisar dengan dewan penasihat yg menyuruh dengan keras, seperti menyuruh suatu negara besar.

Pelebaran lokasi mengatakan efek ini. Kekuasaan Mataram mencakup Jawa, Madura terkecuali Banten serta Batavia lantaran dikuasai VOC. Terus, daerah-daerah di luar Jawa, ialah Palembang, Jambi, serta Banjarmasin. Sultan Agung mengerjakan mobilisasi militer dengan cara besar besaran hingga bisa tundukkan selama pantai utara Jawa serta bisa menyerang Belanda di Batavia sampai kedua kalinya.

Mengerjakan aktivitas ekonomi yg bercorak agraris serta maritim hingga Mataram berubah menjadi pengekspor beras paling besar pada waktu itu.

Sultan Agung ikut melahirkan karya sastra, ialah kitab Sastra Gendhing serta Kitab Nitipraja. Serat Sastra Gendhing berisi terkait budi pekerti, baik, mistik, serta keharmonisan lahir batin. Serat Nitipraja dibuatnya pada 1563 tahun Jawa atau 1641 Masehi berisi terkait moralitas penguasa dalam menjalankan kewajibannya, adat bawahan terhadap atasan, interaksi rakyat dengan pemerintah, biar tatanan warga serta negara bisa menjadi selaras.

Ia ikut membuat kitab undang-undang baru sebagai gabungan hukum Islam dengan rutinitas istiadat Jawa, ialah Surya Alam.

Ketegasan dalam pimpin lantas ia aplikasikan dimulai dari diri pribadi. Buktinya yakni dengan mengasingkan putra mahkotanya sendiri, Pangeran Adipati Anom. Kekeliruan yg dilaksanakan pangeran kala itu merupakan lakukan perbuatan tak patut pada istri muda Tumenggung Wiraguna.

Sehabis terima laporan perihal tabiat putra mahkota, dia langsung menghukum anaknya melalui langkah mengucilkannya. Tak bisa bertatap muka dengan ayahnya sepanjang tiga tahun. Hukuman itu selesai saat sang pangeran sungguh-sungguh memahami kesalahannya.

Serang Batavia
Dalam catatan histori, Sultan Agung memperlancarkan serangan pada VOC di Batavia sejumlah kedua kalinya. Serangan pertama dilaksanakan pada 1628.

Sebelum penyerangan dilaksanakan, Sultan Agung berkirim utusan damai terhadap VOC. Bupati Tegal, Kiai Rangga, memberikan penawaran damai dengan ketentuan khusus dari Mataram. Namun, dijawab dengan menampik.

Sultan Agung lantas menentukan kelahi dengan VOC. Satu armada perang Mataram ke Batavia dibawah pimpinan Tumenggung Berbau Reksa di kirim. Armada itu terdiri dalam 59 kapal serta 20. 000 pasukan. Lantas, pasukan penambahan menyusul 1 bulan lantas, ialah bulan Oktober 1628 di pimpin Pangeran Mandurareja dengan membawa 10. 000 prajurit.

Perang besar berlangsung di Benteng Hollandia. Tetapi, serangan ini tidak sukses berkat pasukan Mataram di serang wabah penyakit serta kekurangan bekal.

Yang menimbulkan kegagalan ikut diakibatkan oleh terpecahnya konsentrasi pasukan. Kala berbarengan, pasukan berperang menantang kerajaan di selama pesisir utara Jawa yg menampik tunduk pada Mataram Islam.

Serangan ke dua berlangsung pada 1629. Sultan Agung lantas kirim armada perang pada 1629. Kesempatan ini, pasukan Mataram di pimpin oleh Adipati Puger.

Dari segi persenjataan, penyerangan ke dua ini dilengkapi persenjataan lebih komplet serta persiapan lebih masak. Tidak hanya itu, buat menyikapi kekurangan makanan, lumbung-lumbung makanan disediakan di lebih kurang Batavia.

Penyerangan ke dua di pimpin dua Panglima perang Mataram, ialah Adipati Ukur serta Adipati Juminah. Paukan pertama yg di pimpin oleh Adipati Ukur diberangkatkan pada Mei 1629, dan pasukan ke dua di pimpin Adipati Juminah pergi bulan Juni. Banyaknya semua pasukan Mataram buat penyerangan ke dua ini merupakan 14. 000 orang.

Kegagalan kembali dijumpai pasukan Mataram. Satu diantaranya yang menimbulkan kegagalan ini merupakan dibakarnya tempat untuk menyimpan makanan pasukan Mataram oleh VOC serta banyak prajurit yg terjangkit wabah kolera, sebabkan kematian. Bahkan juga, penyakit ini pun menewaskan Gubernur Jenderal VOC di Batavia, Jan Pieterzoon Coen.

Tetapi selanjutnya kejayaan Mataram menjumpai ujungnya. Ini diawali terlebih dulu dengan wafatnya Sultan Agung di istananya pada 1645. Istana itu dibikin atas perintahnya pada awal ia menyandang Panembahan Hanyokrokusumo, terdapat sekira 10 km. selatan Kota Gede, Yogyakarta.

Sehabis meninggal dunia, satu-satu, daerah yg ia taklukan menantang buat melewatkan diri serta dibantu VOC.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s